TSroBSz6GfYiGpMiGfW6GpMlTd==

Budidaya Cacing di Cikalongkulon, Ubah Limbah Dapur Jadi Cuan Berkelanjutan

Budidaya Cacing di Cikalongkulon, Ubah Limbah Dapur Jadi Cuan Berkelanjutan


ZONAPASUNDAN.COM,– CIANJUR //Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan, berbagai inovasi usaha berbasis pengelolaan sampah mulai bermunculan. Salah satunya adalah budidaya cacing, yang terbukti tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga memiliki nilai ekonomi tinggi.

Hal inilah yang dilakukan Endang Nuryamin, warga Kampung Tanjakan Keusik RT 02/03, Desa Mekarsari, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur. Sejak memulai budidaya cacing pada Senin (24/11/2025), Endang berhasil mengubah limbah dapur menjadi produk bernilai jual berupa vermicompost (pupuk organik dari kotoran cacing).

Berawal dari kepeduliannya terhadap lingkungan, Endang mengenal dunia budidaya cacing setelah diperkenalkan oleh seorang suster dari MASF. Meski pada awalnya terdengar sederhana, ia justru menemukan kompleksitas yang menarik dan penuh tantangan dalam proses pengembangannya.

“Saya melihat banyak limbah rumah tangga yang selama ini hanya dibuang begitu saja, padahal bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai,” ujar Endang.

Edukasi Pemilahan Sampah ke Masyarakat

Tak hanya berfokus pada budidaya, Endang juga aktif mengedukasi masyarakat, khususnya kaum ibu, agar mulai membiasakan diri memilah sampah dari rumah. Sisa makanan seperti sayuran dan buah-buahan dikumpulkan terpisah untuk dijadikan pakan bagi cacing tanah.

Di tempat budidayanya, Endang didampingi dua rekannya, salah satunya Nana. Mereka membudidayakan dua jenis cacing, yakni African Night Crawler (ANC) dan Lumbricus Rubellus (LR). Namun, jenis LR lebih banyak dikembangkan karena memiliki tingkat reproduksi yang lebih cepat dan memberikan hasil lebih optimal secara ekonomi.

Media Budidaya Alami dan Ramah Lingkungan

Berbeda dengan sebagian pelaku budidaya lainnya yang menggunakan ampas tahu, Endang memilih media yang dianggap lebih ramah dan cocok bagi pertumbuhan cacing, yakni baglog jamur bekas, kotoran sapi, dan limbah organik rumah tangga.

Menurutnya, ampas tahu memiliki tingkat keasaman tinggi yang kurang baik bagi cacing. Sedangkan kombinasi media pilihannya mampu menjaga kelembaban, menyeimbangkan pH, sekaligus memperkaya unsur hara.

Dari proses tersebut dihasilkan vermicompost berkualitas premium yang memiliki tekstur menyerupai pasir halus. Setelah dipanen, pupuk tersebut dijemur, disemprot mikroba dan jamur Trichoderma, kemudian disaring dan dikemas sebelum dipasarkan.

Penambahan mikroba dan jamur bermanfaat ini diyakini mampu membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, serta memaksimalkan pertumbuhan tanaman.

Konsistensi Jadi Kunci Keberhasilan

Endang menegaskan bahwa tidak ada kesuksesan yang instan dalam usaha ini. Konsistensi dan ketekunan menjadi kunci utama.

“Lebih baik mulai dari kecil tapi konsisten,” tuturnya.

Ia secara rutin memantau kondisi media dan lingkungan budidaya, seperti suhu, kelembaban, dan kualitas media tanam. Karena faktor-faktor tersebut sangat berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup dan reproduksi cacing.

Dengan sistem tumpang sari dan pengelolaan media yang rapi, proses pemantauan dan pemindahan media menjadi lebih mudah, sekaligus mampu meminimalisir angka kematian cacing.

Bukan Sekadar Bisnis, Tapi Panggilan Jiwa

Budidaya Cacing di Cikalongkulon, Ubah Limbah Dapur Jadi Cuan Berkelanjutan





Bagi Endang, budidaya cacing bukan semata-mata soal keuntungan ekonomi. Lebih dari itu, ia menjadikannya sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan.

Ia berharap usahanya bisa membantu banyak pihak, mulai dari petani hingga masyarakat sekitar. Selain itu, ia ingin menginspirasi masyarakat bahwa Indonesia memiliki tanah yang subur dan potensi besar jika dikelola secara bijak dan berkelanjutan.

“Dengan manajemen waktu yang baik, siapa pun bisa tetap berkarya dan menghasilkan, sambil menjaga lingkungan,” tambahnya.

Meski tantangan tetap ada mulai dari faktor cuaca, teknis pemeliharaan, hingga kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah — semangat Endang untuk berbagi dan memberi dampak positif membuatnya tidak mudah menyerah.

Ia berharap ke depan, usaha budidaya cacing yang dirintisnya dapat terus berkembang, baik dari segi produksi maupun pemasaran. Lebih dari itu, ia ingin semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk peduli lingkungan dan menggali potensi lokal yang dimiliki.

“Saya percaya, niat baik akan mempertemukan kita dengan orang-orang baik pula,” pungkasnya.


(Zun/Mil)


Type above and press Enter to search.