TSroBSz6GfYiGpMiGfW6GpMlTd==

Mengajar dengan Hati, Belajar dengan Adab: Kunci Menghidupkan Pendidikan

“Mengajar dengan Hati, Belajar dengan Adab: Kunci Menghidupkan Pendidikan”


ZONAPASUNDAN.COM,– CIANJUR //Dunia pendidikan kembali menjadi sorotan. Fenomena memprihatinkan tentang menurunnya rasa hormat antara pendidik dan peserta didik kini kian sering muncul ke permukaan. Kasus murid yang menantang, bahkan melawan gurunya, seolah menjadi potret buram hubungan yang mulai kehilangan arah.

Hal itu disampaikan oleh Siti Rafida Maldah, mahasiswi STIT Assa’Idiyyah asal Desa Sindangjaya, Kecamatan Cipanas, dalam refleksi pendidikan yang ia tulis, Rabu (12/11/2025).

Menurutnya, krisis ini tidak hanya terjadi di satu pihak. Ada guru yang lupa pada amanahnya, bersikap kasar, atau gagal menjadi teladan. Di sisi lain, murid pun kerap abai terhadap nilai adab dan etika.

“Hubungan antara pendidik dan peserta didik seharusnya dibangun atas dasar kasih sayang, saling menghormati, dan niat tulus untuk menuntut ilmu,” ujarnya.

Siti menegaskan, dalam pandangan Islam, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan pembentukan akhlak. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR Ahmad).

Dari hadis itu, kata Siti, dapat dipahami bahwa tujuan utama pendidikan sejati adalah melahirkan manusia berilmu dan beradab.

“Ilmu tanpa adab adalah bencana, dan adab tanpa ilmu adalah kesesatan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Siti menyoroti bagaimana media sosial turut memperburuk situasi. Banyak siswa yang merasa benar karena mendapat dukungan di ruang digital, sementara guru kehilangan wibawanya lantaran takut disalahpahami atau viral.

“Sekolah yang seharusnya menjadi tempat tumbuhnya ilmu dan akhlak kini berubah menjadi ruang yang kehilangan ketenangan,” ungkapnya.

Dalam refleksinya, ia juga mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

Namun, ia mengingatkan, ilmu harus berjalan seiring dengan iman dan adab. Guru yang beriman tidak akan menyalahgunakan ilmunya, dan murid yang beradab tidak akan merendahkan gurunya.

Siti Rafida menilai, masalah pendidikan yang tengah ramai diperbincangkan mulai dari menurunnya moral siswa, tekanan administrasi terhadap guru, hingga dampak digitalisasi menunjukkan perlunya mengembalikan ruh pendidikan kepada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing hati. Murid bukan sekadar penerima ilmu, tetapi penuntut kebenaran,” tegasnya.

Ia pun mengutip sabda Rasulullah SAW:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Muslim).

Hadis ini, lanjutnya, seharusnya menjadi pengingat bagi guru dan murid untuk menata kembali niat dan sikap. Guru harus mendidik dengan hati, bukan sekadar mengajar nilai. Murid pun hendaknya menuntut ilmu dengan hormat, bukan hanya demi ijazah.

“Kini saatnya kita kembali ke jati diri pendidikan sejati: menumbuhkan manusia yang beriman, berilmu, dan beradab. Sebab tanpa adab dan kasih, sehebat apa pun kurikulum dan secanggih apa pun teknologi, pendidikan akan kehilangan maknanya,” tutup Siti Rafida Maldah.


(TimRed)


Type above and press Enter to search.