TSroBSz6GfYiGpMiGfW6GpMlTd==

Pemikiran Tokoh Muslim Dinilai Masih Relevan Hadapi Persoalan Pendidikan Masa Kini

Pemikiran Tokoh Muslim Dinilai Masih Relevan Hadapi Persoalan Pendidikan Masa Kini



ZONAPASUNDAN.COM,- CIANJUR //Pemikiran tokoh-tokoh Muslim klasik kembali dinilai relevan untuk menjawab berbagai persoalan pendidikan di Indonesia saat ini. Hal tersebut muncul di tengah meningkatnya kasus degradasi moral di lingkungan sekolah, ketimpangan kualitas pendidikan, serta tantangan era digital yang semakin kompleks.

Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam meningkatkan kualitas hidup seseorang. Namun, pada realitanya, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum mampu mengenyam pendidikan hingga jenjang tertinggi. Sebagian besar hanya menyelesaikan pendidikan sampai tingkat sekolah dasar dan menengah.

Menurut hasil kajian yang disampaikan oleh M. Andriawan, salah satu mahasiswa STIT Assa’idiyyah, kualitas pendidikan Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Berdasarkan survei tahun 2024, Indonesia berada pada peringkat 76 dari 89 negara dalam hal kualitas pendidikan.

“Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan mendasar yang harus segera dibenahi dalam sistem pendidikan kita,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini.

Pertama, rendahnya minat belajar peserta didik. Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, mudah merasa bosan terhadap materi pelajaran, merasa malas mengerjakan tugas, serta kurang memiliki motivasi untuk mengikuti proses pembelajaran secara maksimal.

Kedua, rendahnya kualitas pendidikan yang mencakup kurang memadainya infrastruktur sekolah, kurikulum yang belum sepenuhnya sesuai dengan visi dan misi pendidikan, serta kurangnya kreativitas guru dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa.

Ketiga, terbatasnya akses terhadap pendidikan, terutama di daerah terpencil. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ekonomi, mahalnya biaya pendidikan, keterbatasan fasilitas sekolah, minimnya ruang kelas yang layak, serta keterbatasan sumber daya jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan.

Keempat, kualitas guru yang belum optimal. Masih ditemukan tenaga pendidik yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang keahlian, terutama dalam bidang pendidikan Islam.

Dalam konteks inilah, pemikiran Al-Ghazali dinilai tetap relevan hingga saat ini. Al-Ghazali merupakan salah satu tokoh intelektual Muslim yang tidak pernah lekang oleh waktu. Pemikirannya tentang akhlak, pendidikan jiwa, serta hakikat pendidikan, menjadi rujukan penting ketika dunia pendidikan modern menghadapi krisis moral, runtuhnya keteladanan, dan melemahnya hubungan antara guru dan murid.

Menurut Al-Ghazali, pendidikan sejati bukan hanya sebatas proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu, merupakan upaya membentuk manusia yang beradab, berjiwa bersih, dan dekat dengan Allah SWT. Akhlak, dalam pandangan Al-Ghazali, bukan hanya perilaku yang ditampilkan secara lahir, melainkan kondisi batin yang telah tertanam dalam jiwa sehingga melahirkan perbuatan baik secara spontan.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menegaskan bahwa akhlak yang mulia merupakan hasil dari proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa), latihan diri, dan pengawasan batin yang berkelanjutan.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

(QS. Asy-Syams [91]: 9-10)

Ayat tersebut menjadi landasan bahwa pendidikan jiwa memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan manusia. Oleh karena itu, Al-Ghazali memandang bahwa lembaga pendidikan, keluarga, dan lingkungan sosial harus bekerja sama dalam menciptakan suasana yang mendukung tumbuhnya akhlak mulia.

Dalam konsep Al-Ghazali, guru memiliki posisi yang sangat mulia. Ia menyebut guru sebagai waratsatul anbiya (pewaris para nabi), yang tugasnya bukan sekadar mengajar, melainkan juga memberikan keteladanan moral, spiritual, dan sosial. Guru harus menjadi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari karena peserta didik memiliki kecenderungan untuk meniru perilaku orang yang mereka hormati.

Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

(HR. Ahmad)

Hadis tersebut mempertegas bahwa pendidikan akhlak merupakan tujuan utama dalam pendidikan Islam. Dengan demikian, pendidik yang memiliki akhlak buruk berarti telah mencederai misi luhur pendidikan itu sendiri.

Al-Ghazali juga menekankan pentingnya metode keteladanan, pembiasaan, dan nasihat yang lembut dalam mendidik anak. Menurutnya, anak ibarat tanah yang siap ditanami benih. Jika sejak dini ditanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, amanah, dan adab, maka nilai-nilai tersebut akan tumbuh dengan sendirinya menjadi bagian dari karakter anak.

Ia mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh dilakukan dengan kekerasan, karena hal tersebut justru akan merusak jiwa anak dan berpotensi menumbuhkan sifat dendam serta kemunafikan. Sebaliknya, proses pendidikan harus dilandasi kasih sayang, kesabaran, dan pembiasaan yang terus-menerus.

Pendidikan akhlak, menurut Al-Ghazali, tidak hanya berkaitan dengan hubungan antar sesama manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan Allah SWT. Akhlak mulia merupakan buah dari keimanan yang kuat dan kesadaran spiritual yang mendalam.

Seperti yang ditegaskan dalam firman Allah SWT:

“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang agung.”

(QS. Al-Qalam [68]: 4)

Ayat ini bukan hanya pujian bagi Rasulullah, tetapi juga menjadi standar akhlak bagi para pendidik dan peserta didik. Pendidikan tidak akan efektif jika hanya diajarkan melalui teori tanpa adanya contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di era modern saat ini, pemikiran Al-Ghazali dianggap sangat relevan karena dunia pendidikan tengah mengalami krisis nilai. Kecerdasan akademik sering kali lebih diutamakan daripada integritas moral. Banyak lembaga pendidikan hanya berfokus pada prestasi angka, tetapi melupakan pembentukan karakter.

Al-Ghazali telah mengingatkan bahwa ilmu tanpa akhlak akan menimbulkan kerusakan. Sebaliknya, amal tanpa ilmu akan menjerumuskan pada kesesatan. Pandangan ini menjadi kritik keras bagi sistem pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif tanpa memperhatikan pembinaan karakter.

Oleh karena itu, di sekolah dan madrasah, pemikiran Al-Ghazali dapat diterapkan melalui penciptaan iklim pendidikan yang menumbuhkan keteladanan, budaya saling menghormati, pembiasaan adab, penguatan nilai-nilai spiritual, serta hubungan yang hangat antara guru dan murid.

Program pendidikan karakter yang saat ini digagas pemerintah seharusnya tidak berhenti sebatas slogan, melainkan benar-benar diimplementasikan secara nyata melalui pendekatan yang berakar pada nilai-nilai agama dan tradisi keilmuan Islam.

Pada akhirnya, pemikiran Al-Ghazali mengingatkan kembali kepada hakikat sejati pendidikan, yaitu bukan sekadar mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga melahirkan generasi yang berjiwa bersih, berperilaku mulia, serta mampu menjadi cahaya bagi masyarakat.

Pendidikan akhlak adalah jantung dari pendidikan itu sendiri. Jika akhlak hilang, maka hilang pula ruh pendidikan. Dengan menghidupkan kembali gagasan Al-Ghazali, dunia pendidikan diharapkan dapat menemukan kembali arah serta menjalankan misi sucinya dalam membentuk manusia yang berilmu, beradab, dan bertakwa kepada Allah SWT.

Karya mahasiswi STIT

ASSA IDIYYAH,


(UK/Iyus)


Type above and press Enter to search.