TSroBSz6GfYiGpMiGfW6GpMlTd==

Refleksi Dakwah di Era Digital: Dai Bermartabat, Mustami Literat

Siti Dandawiah Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Assa’idiyah Cipanas, Cianjur, Jawa Barat



zonapasundan.com,- Cianjur //Belakangan ini, media sosial diramaikan oleh perbincangan mengenai seorang pendakwah muda asal Kediri, Jawa Timur, yang diduga mencium seorang anak perempuan saat kegiatan dakwah. Sebagian kecil warganet menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk kasih sayang seorang ulama terhadap umatnya. Namun, kritik yang lebih keras justru datang dari banyak pihak yang menilai perbuatan itu telah melampaui batas etika, berpotensi melanggar norma perlindungan anak, serta dapat mengikis kepercayaan publik terhadap figur keagamaan.

Meskipun sang pendakwah telah menyampaikan permintaan maaf yang sedikit meredakan situasi, polemik tersebut meninggalkan pertanyaan besar yang patut direnungkan bersama: bagaimana seharusnya etika dakwah dijalankan di era digital saat ini?

Dalam tradisi Islam, dakwah bukan hanya sekadar menyampaikan ilmu, melainkan juga praktik nyata keteladanan akhlak. Rasulullah ï·º mencontohkan pentingnya menjaga kehormatan diri dan orang lain, serta melindungi anak-anak sebagai amanah yang suci. Ketika seorang dai melakukan tindakan yang berpotensi menimbulkan persepsi negatif, bukan hanya reputasi pribadi yang tercoreng, melainkan juga wajah pendidikan Islam secara keseluruhan.

Peristiwa ini seakan membuka ruang refleksi yang lebih luas terhadap sistem pendidikan Islam di Indonesia. Diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dalam menanamkan nilai-nilai perlindungan anak. Kurikulum di sekolah, madrasah, dan pesantren perlu menekankan akhlak al-karimah bukan hanya sebagai teori, tetapi sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Para dai dan guru agama pun perlu dibekali pengetahuan tentang psikologi serta perkembangan anak agar mampu menjaga batas-batas interaksi yang sehat dan aman.

Dakwah semestinya menjadi ruang yang teduh dan menenteramkan. Ia harus menjadi tempat yang aman bagi semua pihak—terutama anak-anak untuk belajar, tumbuh, dan meneladani akhlak luhur. Dalam konteks ini, lembaga keamanan dan pemerintah juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk membantu menyusun standar etika dakwah yang jelas. Sertifikasi dai, pelatihan etika publik, serta pengawasan kegiatan keagamaan perlu diperkuat, bukan untuk membatasi kebebasan berdakwah, melainkan untuk memastikan bahwa dakwah tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Di era digital, dampak sebuah tindakan dapat berlipat ganda dalam hitungan detik. Fitur berbagi, komentar, dan berbagai platform media sosial memungkinkan satu peristiwa disaksikan, dinilai, bahkan dihakimi oleh jutaan orang. Inilah yang menuntut setiap dai untuk memiliki kehati-hatian ekstra. Setiap gestur, ucapan, dan tindakan akan menjadi konsumsi publik, tidak hanya oleh jamaah yang hadir di lokasi, tetapi juga masyarakat luas di dunia maya.

Popularitas pun menjadi pedang bermata dua. Seorang dai yang memiliki banyak pengikut sering kali lebih dipandang karena kharisma dibandingkan kualitas substansi pemikirannya. Akibatnya, kesalahan bisa saja dimaklumi hanya karena dilakukan oleh figur yang dianggap “alim” atau “berpengaruh”. Sebaliknya, pemikiran yang mendalam dan bermutu terkadang terabaikan hanya karena disampaikan oleh sosok yang kurang populer.

Oleh sebab itu, masyarakat perlu dibekali literasi keagamaan yang kritis agar tidak terjebak dalam kultus individu. Perintah pertama dalam wahyu adalah iqra’—membaca, memahami, dan merenungi. Al-Qur’an, khususnya dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 6, juga menegaskan pentingnya tabayyun (klarifikasi) sebelum menerima dan menyebarkan informasi. Prinsip ini sangat relevan untuk membentengi umat dari kesalahan dalam memilih teladan, terutama di tengah derasnya arus informasi digital.

Salah satu praktisi pendidikan, Mochammad Devi Cahya Ruhimat, pernah mengingatkan dalam ruang perkuliahan bahwa masyarakat saat ini mulai jenuh dengan sekadar seruan dan perintah, meskipun bertujuan baik. Mereka lebih merindukan keteladanan nyata dalam praktik kehidupan. Pesan ini menjadi sangat relevan dalam dunia dakwah hari ini: teladan lebih kuat pengaruhnya daripada seribu nasihat.

Sebagai mahasiswa sekaligus praktisi pendidikan Islam, penulis mengajak para dai untuk senantiasa menjaga relevansi antara nilai-nilai Islam dan praktik dakwah, baik di mimbar pengajian maupun di ruang-ruang kelas. Di saat yang sama, masyarakat pun dituntut untuk menjadi lebih literat, tidak mudah terpesona oleh popularitas semata, serta lebih cermat dalam menilai kebenaran ajaran yang disyiarkan.

Sikap literat ini akan membantu kita terhindar dari pemahaman yang keliru dan sikap yang berlebihan. Sebab, sebagai warganet sekaligus bagian dari masyarakat beriman, kita memiliki tanggung jawab bersama terhadap keteraturan dan keharmonisan sosial.

Mari kita jadikan dakwah sebagai ruang yang aman, nyaman, dan penuh keteladanan dalam membentuk akhlak generasi. Dengan sikap kritis yang beradab serta komitmen bersama, pendidikan Islam dapat menjadi fondasi kuat dalam membangun peradaban masa depan yang lebih baik.

Oleh: Siti Dandawiah

Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Assa’idiyah Cipanas, Cianjur, Jawa Barat


(UK/Iyus)

Type above and press Enter to search.