![]() |
| Dari Lapak Sederhana di Ciranjang, Keris Nusantara Kembali Bersinar |
zonapasundan.com,– Cianjur //Di tengah derasnya arus modernisasi, denyut budaya lama justru kembali terasa. Di sebuah sudut sederhana, tepat di samping pintu masuk Stasiun Kereta Api Ciranjang, geliat itu tampak nyata. Keris—pusaka warisan leluhur Nusantara—kini kembali diburu, menandai bangkitnya minat masyarakat terhadap nilai sejarah dan identitas budaya.
Fenomena ini tak hanya terjadi di kota besar. Di Kecamatan Ciranjang, Kabupaten Cianjur, kebangkitan pecinta keris kian menguat, menghadirkan peluang baru bagi pelaku usaha sekaligus penjaga tradisi.
Salah satu yang merasakan langsung gelombang perubahan ini adalah Abah Bagas. Dulu dikenal sebagai pedagang batu cincin, kini ia mantap membanting setir menjadi penjual keris. Keputusan itu bukan tanpa alasan—permintaan pasar terhadap pusaka tradisional terus melonjak.
“Melihat fenomena sekarang di dunia perkerisan, dari segi pemasaran cukup bagus dan sangat menjanjikan,” ujar Abah Bagas saat ditemui, Senin (6/4/2026).
Lapak sederhana miliknya kini menjadi magnet bagi para kolektor. Tak hanya warga sekitar, pembeli datang dari berbagai daerah seperti Warungkondang, Cikondang, hingga Bandung. Bahkan, sebagian lainnya rela menempuh perjalanan jauh dari luar Pulau Jawa, seperti Sumatra, demi mendapatkan keris yang diincar.
Abah Bagas mengaku, untuk memenuhi permintaan, ia harus berburu barang hingga ke berbagai daerah sentra keris seperti Surabaya, Surakarta (Solo), dan wilayah lain di Jawa Tengah.
Menariknya, lonjakan minat ini juga berdampak pada sisi ekonomi. Ia menyebut, keuntungan dari penjualan keris bisa mencapai lebih dari 50 hingga 60 persen—angka yang cukup menggiurkan bagi pelaku usaha.
Namun, bagi para pembeli, keris bukan sekadar barang dagangan. Ada nilai yang lebih dalam dari sekadar bentuk fisik. Filosofi, bahan, hingga sejarah menjadi pertimbangan utama sebelum sebuah keris berpindah tangan.
“Sekarang pembeli lebih selektif. Mereka melihat dari besi, sepuh, hingga nilai historisnya. Bahkan ada yang mencari keris tertentu yang belum mereka miliki,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keris telah kembali ke tempatnya—bukan sekadar benda koleksi, melainkan simbol jati diri dan kebanggaan budaya bangsa. Kebangkitan ini juga menjadi penanda meningkatnya kesadaran masyarakat untuk merawat warisan leluhur.
![]() |
| Dari Lapak Sederhana di Ciranjang, Keris Nusantara Kembali Bersinar |
Di balik ramainya transaksi, tersimpan harapan besar. Abah Bagas ingin tren ini terus tumbuh, tidak hanya menggerakkan roda ekonomi, tetapi juga menjaga nyala tradisi agar tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.
“Ini simbol bahwa peradaban kita masih dihargai. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budaya dan sejarahnya,” tutupnya.
Kini, dari lapak kecil di Ciranjang, keris Nusantara kembali menemukan cahayanya—menjangkau lintas daerah, lintas generasi, dan kembali mengukuhkan diri sebagai pusaka yang tak lekang oleh waktu.
(Zun)

