TSroBSz6GfYiGpMiGfW6GpMlTd==

“Saat Kopi Jadi Alat Kuasa: Novel Saep Lukman Bongkar Sejarah Kelam Cianjur”

 

“Saat Kopi Jadi Alat Kuasa: Novel Saep Lukman Bongkar Sejarah Kelam Cianjur”


zonapasundan.com,- Cianjur //Harum kopi yang selama ini melekat pada nama Cianjur ternyata menyimpan cerita lain yang tak banyak diungkap. Lewat novel Cinta, Kopi, dan Kekuasaan: Kesaksian Nyai Apun Gencay, Saep Lukman mengajak pembaca menyingkap sisi gelap sejarah yang lama terpendam sebuah kisah tentang kuasa, penderitaan, dan manusia-manusia kecil yang kerap dilupakan.

Karya ini tidak berhenti pada romantika cinta sebagaimana judulnya mungkin mengelabui. Di dalamnya, Saep justru membongkar lapisan sejarah yang keras: sistem tanam paksa, kerja rodi, hingga persekongkolan elite lokal yang menjadikan kopi bukan sekadar komoditas, melainkan alat penakluk. Biji kopi, yang hari ini dinikmati dengan santai di kafe-kafe modern, dulunya adalah simbol tekanan yang menindih kehidupan rakyat.

Jurnalis sejarah Hendi Jo menilai, narasi besar tentang kopi Cianjur selama ini terlalu sering dibalut kebanggaan semu. Kopi diposisikan sebagai lambang kejayaan ekonomi Priangan, tanpa pernah benar-benar mengungkap harga sosial yang harus dibayar. Padahal, di balik catatan ekspor yang gemilang, tersimpan kisah pilu para petani yang dipaksa mengorbankan tanaman pangan demi memenuhi tuntutan kolonial.

“Cianjur memang dikenal dunia karena kopi. Tapi jangan lupa, ada penderitaan panjang yang menyertainya,” ujarnya.

“Saat Kopi Jadi Alat Kuasa: Novel Saep Lukman Bongkar Sejarah Kelam Cianjur”


Saep Lukman menghadirkan sudut pandang yang berbeda dari sejarah resmi. Ia tidak berbicara dari menara kekuasaan, melainkan dari tanah dari kehidupan sederhana seorang perempuan kampung bernama Nyai Apun Gencay. Tokoh ini menjadi jembatan emosional yang menghubungkan pembaca dengan realitas masa lalu yang getir. Ia bukan pahlawan dalam arti konvensional, melainkan sosok yang dipaksa bertahan di tengah situasi yang tak pernah ia pilih.

Melalui Apun, sejarah menjadi lebih hidup—bukan sekadar data dan arsip, tetapi pengalaman yang terasa dekat dan menyentuh. Pembaca diajak menyusuri kehilangan demi kehilangan: keluarga, ruang hidup, hingga kebebasan yang perlahan direnggut oleh sistem.

Yang menarik, Saep juga menempatkan alam sebagai bagian penting dalam narasi. Huma, hutan, dan kebun tidak sekadar latar, tetapi ruang hidup yang memiliki makna spiritual dan kultural. Alam digambarkan sebagai sahabat sekaligus sumber kehidupan yang dihormati. Namun, semua itu berubah drastis ketika kepentingan dagang kolonial masuk. Tanah dipaksa tunduk pada satu komoditas, dan keseimbangan pun runtuh.

Dalam perspektif Saep, hubungan antara kopi dan kekuasaan di Nusantara bukanlah kebetulan. Sejak awal, kopi hadir bukan karena kebutuhan lokal, melainkan karena kalkulasi ekonomi VOC sebagai kekuatan dagang global. Situasi ini diperparah oleh keterlibatan elite lokal yang ikut menikmati keuntungan, sementara rakyat kecil tetap berada di posisi paling rentan.

“Yang diuntungkan segelintir, yang menanggung beban adalah mayoritas,” tegasnya.

Novel ini juga mengajak pembaca untuk meninjau ulang narasi kebanggaan terhadap kopi Cianjur. Julukan sebagai penghasil kopi terbaik dunia, menurut Saep, perlu dilihat dengan perspektif yang lebih jujur. Sebab di baliknya, ada sejarah penggusuran ladang pangan, kelaparan, dan ketimpangan yang jarang dicatat.

Konflik dalam cerita tidak hadir dalam bentuk ledakan besar, melainkan mengalir pelan dan terasa nyata. Tokoh Yudira, misalnya, menjadi representasi kegelisahan rakyat biasa. Ia tidak berteriak lantang, tetapi menyimpan perlawanan dalam diam melalui pilihan-pilihan kecil yang penuh risiko. Pergulatan batinnya mencerminkan situasi banyak orang pada masa itu: antara bertahan hidup atau melawan ketidakadilan.

“Saat Kopi Jadi Alat Kuasa: Novel Saep Lukman Bongkar Sejarah Kelam Cianjur”


Lebih jauh, Saep Lukman menegaskan bahwa novel ini bukan sekadar upaya mengungkap masa lalu, tetapi juga peringatan bagi masa kini. Di tengah maraknya budaya ngopi, festival kopi, dan tren “specialty coffee”, ia mengingatkan agar sejarah tidak dilupakan. Menurutnya, industri kopi yang sehat harus berpijak pada keadilan bagi petani, keberlanjutan lingkungan, serta kesadaran akan jejak sejarahnya.

Jika tidak, kata dia, pola lama hanya akan terulang dalam wajah baru.

Kini, setelah menembus hampir 5.000 eksemplar, Cinta, Kopi, dan Kekuasaan menjadi lebih dari sekadar novel. Ia adalah pengingat bahwa setiap teguk kopi membawa cerita panjang tentang kerja keras, tentang luka, dan tentang siapa yang selama ini berada di balik layar.

“Di balik pahit dan harumnya kopi, selalu ada kisah yang tak sederhana. Ada air mata, ada keringat, dan ada sejarah tentang siapa yang berkuasa dan siapa yang dikorbankan,” tutup Saep.


Iwn


Type above and press Enter to search.