TSroBSz6GfYiGpMiGfW6GpMlTd==

Solar Seret, Logistik Terhambat: Alarm Keras untuk Sistem Energi

Solar Seret, Logistik Terhambat: Alarm Keras untuk Sistem Energi




zonapasundan.com,- Cianjur //Kelangkaan bahan bakar jenis solar kembali membuka potret buram tata kelola distribusi energi nasional. Fenomena ini tak lagi bisa dianggap sebagai gangguan sesaat, melainkan gejala berulang yang kian mengkhawatirkan—terutama di tengah ekonomi yang sangat bergantung pada kelancaran logistik darat.

Ironinya terasa menohok. Di saat roda distribusi harus terus berputar demi menjaga stabilitas pasokan barang, justru “darah” penggeraknya—solar kian sulit diperoleh. Kondisi ini bukan sekadar anomali, melainkan sinyal keras bahwa ada yang tidak beres dalam sistem distribusi energi.

Pemandangan tak lazim terlihat pada Rabu (29/4/2026) di sebuah SPBU di Jalan Raya Cikalong–Cinangsi, Desa Cinangsi, Kecamatan Cikalongkulon. Puluhan truk dari berbagai daerah mengular panjang, bukan hanya menunggu giliran, tetapi juga menanti kepastian atas ketersediaan bahan bakar.

Antrean tersebut menjadi cermin gangguan serius dalam distribusi energi. Para sopir—yang selama ini menjadi ujung tombak pergerakan barang kebutuhan masyarakat—justru terjebak dalam ketidakpastian yang melelahkan.

Amin (48), sopir ekspedisi asal Ciawi, menuturkan pekerjaannya kini berubah menjadi perjuangan. Perjalanan yang semestinya rutin, kini dipenuhi kecemasan.

“Harusnya bisa langsung kirim dan bongkar tepat waktu. Sekarang malah habis waktu di jalan buat antre. Kadang bongkar sampai besok,” keluhnya.

Ia juga mengungkapkan pembelian solar di wilayah asalnya dibatasi hanya Rp100.000—jumlah yang tidak memadai untuk kendaraan berat. Situasi ini menjadi ancaman langsung terhadap produktivitas dan penghasilannya.

Keluhan serupa disampaikan Dueng, sopir pengangkut pasir. Ia bahkan harus berburu solar sejak malam hari, menyisir wilayah Jonggol hingga Tanjungsari tanpa hasil.

“Sehari semalam cari solar. Harusnya sudah sampai tujuan, tapi malah tertunda. Biaya nambah, tenaga habis,” ujarnya.

Dampaknya tidak berhenti pada sopir. Keterlambatan distribusi berpotensi memicu kenaikan ongkos logistik yang pada akhirnya dibebankan kepada konsumen. Dalam sistem yang saling terhubung, gangguan di satu titik dapat menjalar menjadi persoalan luas.

Pengawas SPBU setempat, Ali Umar, menyebut pasokan solar masih berjalan sesuai jadwal distribusi rutin empat kali dalam sepekan, dengan volume sekitar 8 ton per hari. Namun lonjakan permintaan akibat kelangkaan di wilayah lain membuat pasokan tersebut tak lagi seimbang dengan kebutuhan.

Akibatnya, SPBU yang masih memiliki stok berubah menjadi titik penumpukan. Antrean panjang pun tak terhindarkan kondisi yang seharusnya tidak terjadi jika distribusi berjalan merata dan efektif.

Situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: di mana letak masalah sebenarnya? Ketika sopir harus menghabiskan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari hanya untuk mendapatkan solar, maka persoalan ini bukan lagi sekadar teknis, melainkan indikasi adanya masalah struktural yang lebih dalam.

Kelangkaan solar di Cianjur hari ini menjadi refleksi rapuhnya sistem distribusi energi. Jika dibiarkan, dampaknya akan meluas tidak hanya bagi pelaku transportasi, tetapi juga masyarakat luas yang bergantung pada stabilitas harga dan ketersediaan barang.

Di tengah deru mesin yang kini lebih sering terdiam dalam antrean, tersimpan kegelisahan nyata: roda ekonomi bisa melambat, bahkan tersendat bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena absennya kepastian energi yang seharusnya menjadi fondasi utama pergerakan.


Tim

Type above and press Enter to search.