![]() |
| Kepala MIS Assasul Islam: Lomba Agustusan Bagian dari Pembelajaran Sejarah |
CIANJUR//ZONA PASUNDAN – Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Assasul Islam menggelar berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80. Salah satunya melalui kegiatan karnaval atau pawai kemerdekaan yang diikuti para siswa.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang hiburan bagi para siswa, tetapi juga bagian dari pembelajaran untuk mengenalkan sejarah perjuangan bangsa dan jasa para pahlawan sejak usia dini.
Kepala MIS Assasul Islam, Ujang Saepudin, mengatakan kegiatan Agustusan menjadi momentum yang tepat untuk menanamkan rasa cinta terhadap tanah air kepada para siswa.
“Kegiatan ini juga merupakan salah satu program pembelajaran sekolah. Saat ini madrasah menerapkan kurikulum berbasis ‘Cinta’. Kebetulan Agustusan merupakan momentum yang bagus untuk mengajarkan kepada anak bangsa agar mencintai bangsanya sendiri, termasuk memahami pengorbanan dan perjuangan para pahlawan,” kata Ujang Saepudin.
Menurutnya, kegiatan karnaval tersebut telah diagendakan oleh pihak sekolah sejak satu bulan sebelum pelaksanaan. Hal itu dilakukan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat dipersiapkan dengan baik sekaligus disesuaikan dengan program pembelajaran di madrasah.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari penerapan kurikulum, agar anak mengetahui bahwa Agustusan merupakan momentum lahirnya Negara Republik Indonesia. Ini juga termasuk dalam pembelajaran sejarah umum dan mengajarkan kepada anak betapa pentingnya mencintai tanah air,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ujang menjelaskan bahwa madrasah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Cianjur tersebut saat ini terus mengembangkan kurikulum berbasis Panca Cinta.
Panca Cinta tersebut meliputi cinta kepada Allah dan Rasul, cinta terhadap ilmu, cinta terhadap sesama, cinta terhadap lingkungan sekitar, serta cinta terhadap tanah air.
![]() |
| Kepala MIS Assasul Islam: Lomba Agustusan Bagian dari Pembelajaran Sejarah |
Selain karnaval, MIS Assasul Islam juga menggelar berbagai perlombaan tradisional yang diikuti para siswa. Di antaranya balap kelereng, lomba makan kerupuk, memasukkan sedotan ke dalam botol, balap karung, serta lomba berjalan menggunakan dua alat duduk.
Ujang menambahkan, berbagai perlombaan tersebut tidak semata-mata bertujuan untuk hiburan. Kegiatan itu juga menjadi sarana untuk meningkatkan semangat, keberanian, kebersamaan, dan motivasi belajar para siswa.
“Tujuan kegiatan perlombaan ini di antaranya untuk menghibur anak-anak, menarik minat mereka mengikuti kegiatan, menggali semangat perjuangan, serta meningkatkan semangat belajar,” pungkasnya.
(RISMA)

