![]() |
| BRIN Gandeng Pemkab Sukabumi Dorong Industrialisasi Garam Berbasis Teknologi Solar Still |
SUKABUMI//ZONA PASUNDAN – Kabupaten Sukabumi tengah menyiapkan langkah besar untuk mengembangkan sektor kelautan dan perikanan, khususnya produksi garam lokal. Kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dinas Perikanan, BAPPERIDA, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, Dinas Perdagangan dan Perindustrian, serta akademisi mulai diarahkan pada pengembangan industrialisasi garam berbasis teknologi modern.
Langkah tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) strategis yang digelar Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi pada Kamis, 27 Agustus 2026. Forum ini menjadi ruang bersama untuk menyusun arah dan peta jalan pengembangan industri garam lokal, sekaligus membahas penerapan teknologi solar still yang digagas peneliti BRIN.
FGD dihadiri Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Sri Padmoko, A.Pi., M.P., bersama Kepala Bidang Pengolahan, Pemasaran dan Pengawasan Adi Gumbara, S.Pi., M.Si., serta Kepala Bidang Perikanan Tangkap Susanti Mariam, S.Pi., M.Pi.
Turut hadir Kabid Pengawasan Data dan Informasi Industri Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi Adi Setiadi Nugraha, ST., MT., perwakilan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang, serta BAPPERIDA Kabupaten Sukabumi yang diwakili Irvan Avianto, S.Pi., M.Si.
Dari kalangan akademisi, Universitas Nusa Putra diwakili Ir. Anang Suryana, S.Pd., M.Si. Sementara dari BRIN hadir Prof. Dr. Ir. Yoyon Ahmudiarto, M.Sc., IPM., selaku penggagas teknologi solar still, bersama Dr. Ir. Dasep Hasbullah, S.P., M.Si., IPM., Drs. Agus Nurawan, M.P., dan Dian Permana, S.Pi.
Dorong Garam Sukabumi Naik Kelas
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Sri Padmoko mengatakan, potensi pesisir Sukabumi sangat besar sehingga perlu dikelola dengan pendekatan teknologi dan inovasi.
Menurutnya, pengembangan industrialisasi garam tidak cukup lagi mengandalkan pola produksi konvensional. Teknologi hasil riset BRIN dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas garam lokal.
“Potensi pesisir Sukabumi sangat melimpah, namun kita tidak boleh lagi berjalan dengan cara-cara konvensional. Melalui komitmen bersama dan adopsi teknologi dari BRIN, kita dorong penuh industrialisasi garam ini agar memiliki nilai tambah tinggi, mendongkrak perekonomian petambak lokal, dan memperkuat kemandirian pangan daerah dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik,” ujar Sri Padmoko.
Ia menambahkan, Kecamatan Tegalbuleud menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam pengembangan sentra produksi garam. Kebutuhan garam di sejumlah wilayah Sukabumi saat ini cukup besar, mencapai sekitar 4 ton per hari untuk kawasan Cibadak, Parungkuda dan Cicurug, serta sekitar 15 ton per hari jika dihitung dalam skala seluruh kecamatan.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi berkomitmen mendorong penguatan kelembagaan masyarakat serta menyiapkan skema dukungan pendanaan pemerintah daerah.
Sebagai langkah awal, Dinas Perikanan juga akan mengawal alokasi anggaran riset pengolahan garam modern menggunakan metode solar still.
Agenda berikutnya adalah melakukan deliniasi kawasan tambak garam di Kecamatan Tegalbuleud. Kawasan tersebut diharapkan ke depan mampu berkembang menjadi sentra produksi garam wilayah selatan Sukabumi, baik untuk memenuhi kebutuhan garam konsumsi maupun industri.
Bahkan, kawasan tersebut tidak menutup kemungkinan dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis produksi garam.
Solar Still Dinilai Mampu Tingkatkan Kualitas Produksi
Prof. Dr. Ir. Yoyon Ahmudiarto, M.Sc., IPM., selaku periset BRIN sekaligus penggagas teknologi solar still, mengatakan teknologi tersebut sangat memungkinkan diterapkan di kawasan pesisir Sukabumi.
Menurutnya, solar still dapat membantu proses kristalisasi garam menjadi lebih efektif dan higienis, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pola produksi tradisional yang sangat dipengaruhi kondisi musim.
“Pemanfaatan teknologi solar still sangat memungkinkan proses kristalisasi garam berjalan lebih efektif, higienis, dan tidak bergantung penuh pada musim secara tradisional. Kami di BRIN hadir untuk memastikan hasil inovasi riset ini dapat langsung diterapkan secara praktis di lapangan dan memenuhi standar mutu industri,” katanya.
Jawab Kebutuhan Garam Nasional
Periset Pusat Riset Budidaya Air Tawar BRIN, Dr. Ir. Dasep Hasbullah, S.P., M.Si., IPM., menilai inovasi solar still tidak hanya relevan untuk menjawab kebutuhan lokal, tetapi juga dapat mendukung agenda nasional terkait swasembada garam.
Ia menyebut kebutuhan garam nasional saat ini diperkirakan mencapai sekitar 4,3 hingga 4,5 juta ton per tahun. Lebih dari 80 persen kebutuhan tersebut terserap sektor industri manufaktur, termasuk industri, farmasi dan pengolahan makanan. Sisanya digunakan untuk konsumsi masyarakat serta mendukung berbagai sektor kelautan dan perikanan.
Menurutnya, garam berkualitas juga memiliki peran penting dalam perikanan tangkap, terutama untuk menjaga mutu ikan setelah penangkapan, serta sektor akuakultur dalam pengaturan salinitas dan sanitasi media budidaya.
Menariknya, teknologi solar still tidak hanya menghasilkan garam. Proses kondensasi juga menghasilkan air tawar hasil destilasi yang berpotensi dimanfaatkan masyarakat pesisir.
Air tersebut, kata Dasep, dapat dimanfaatkan untuk kegiatan akuakultur bernilai tinggi, termasuk operasional pembenihan atau hatchery, salah satunya untuk pemeliharaan glass eel ikan sidat (Anguilla spp.) yang menjadi salah satu komoditas potensial masyarakat pesisir Sukabumi.
Konsep Nirlimbah Jadi Nilai Tambah
Sementara itu, Periset Pusat Riset Hortikultura BRIN, Drs. Agus Nurawan, M.P., melihat teknologi solar still memiliki keunggulan lain melalui konsep nirlimbah atau zero waste.
Menurutnya, selain menghasilkan garam berkualitas melalui proses evaporasi yang lebih bersih, sistem tersebut juga menghasilkan air tawar melalui proses kondensasi.
Air tawar tersebut dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung budidaya hortikultura di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang selama ini menghadapi persoalan keterbatasan air bersih maupun salinitas tanah.
BAPPERIDA Kawal dari Sisi Perencanaan
Perwakilan BAPPERIDA Kabupaten Sukabumi, Irvan Avianto, S.Pi., M.Si., mengatakan pihaknya siap mengawal rencana pengembangan industrialisasi garam dari sisi perencanaan dan integrasi kebijakan daerah.
Menurutnya, peta jalan industrialisasi garam harus terintegrasi dengan tata ruang serta rencana pembangunan jangka panjang Kabupaten Sukabumi.
“Peta jalan industrialisasi garam ini harus selaras dengan tata ruang dan rencana pembangunan jangka panjang Sukabumi, sehingga investasi riset ini benar-benar berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Dukungan juga datang dari akademisi Universitas Nusa Putra, Ir. Anang Suryana, S.Pd., M.Si. Ia menyatakan kesiapan akademisi untuk menjadi jembatan edukasi dan pendampingan bagi masyarakat.
Menurutnya, modernisasi produksi garam tidak hanya membutuhkan teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di tingkat masyarakat dan pelaku usaha.
Tata Ruang Jadi Bagian Penting Pengembangan
Dari sisi tata ruang, Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kabupaten Sukabumi yang diwakili Ar. Haris Darsono, S.Ars., M.Ars., menyambut baik rencana pengembangan sentra produksi dan pengolahan garam di Kecamatan Tegalbuleud.
Namun, pengembangan kawasan tersebut perlu melalui kajian tata ruang agar tidak bertentangan dengan RTRW Kabupaten Sukabumi.
Beberapa aspek yang perlu diperhatikan antara lain pola dan struktur ruang, garis sempadan pantai, LP2B, serta potensi tumpang tindih dengan perizinan kegiatan pertambangan pasir besi yang telah ada.
Karena itu, diperlukan kejelasan lokasi rencana dalam bentuk SHP atau poligon beserta data pendukung. Data tersebut selanjutnya dapat digunakan untuk melakukan analisis spasial atau overlay terhadap pola dan struktur ruang dalam RTRW.
Hasil analisis tersebut akan menjadi dasar dalam menentukan arah pengembangan dan tindak lanjut sesuai kewenangan.
Industri Lokal Siap Serap Produksi
![]() |
| BRIN Gandeng Pemkab Sukabumi Dorong Industrialisasi Garam Berbasis Teknologi Solar Still |
Kabid Pengawasan Data dan Informasi Industri Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi, Adi Setiadi Nugraha, ST., MT., mengatakan kebutuhan garam industri di wilayah Sukabumi terus meningkat seiring berkembangnya sektor manufaktur dan pengolahan.
Ia menyambut positif integrasi antara riset, pemerintah dan pelaku usaha dalam pengembangan garam lokal.
“Penyerapan produksi garam lokal oleh sektor industri daerah akan memperkuat rantai pasok domestik sekaligus menggerakkan roda ekonomi kerakyatan secara nyata,” ujarnya.
Namun, ia menilai produksi garam di Tegalbuleud yang saat ini dikembangkan Kelompok Usaha Garam Rakyat (KUGAR) masih membutuhkan pembinaan dan pendampingan.
Peningkatan kapasitas produksi hingga sertifikasi menjadi hal penting agar garam yang dihasilkan mampu memenuhi kebutuhan pasar dan masuk ke rantai pasok industri.
Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi Kabupaten Sukabumi untuk membangun ekosistem industri garam yang lebih modern, produktif dan berkelanjutan.
Dengan dukungan teknologi BRIN, perencanaan pemerintah daerah, penguatan tata ruang, pendampingan akademisi serta keterlibatan sektor industri, Kecamatan Tegalbuleud ditargetkan dapat berkembang menjadi salah satu pusat produksi garam unggulan di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi.
Dasep

